Faktor yang Berhubungan dengan Long-term COVID-19: Studi Observasi Cross-Sectional di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.22225/wmj.7.1.4784.33-39Abstrak
Beberapa pasien COVID-19 menunjukkan gejala dalam periode panjang. World Health Organization (WHO) menyatakan gejala COVID-19 jangka panjang dapat terjadi pada individu yang dicurigai atau dikonfirmasi terinfeksi SARS-CoV-2 dalam periode minimal 2 bulan, dimana gejala tersebut tidak dapat dijelaskan dengan diagnosis alternatif dan disebut sebagai long-term COVID-19. Long-term COVID-19 dapat terjadi pada 30% pasien COVID-19, sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Namun, informasi mengenai faktor-faktor terkait Long-term COVID-19 belum banyak ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jenis kelamin, usia, komorbiditas, pekerjaan, status vaksinasi, jenis perawatan, dan durasi pengobatan dengan Long-term COVID-19. Penelitian observasi dengan desain cross-sectional dilakukan pada bulan Agustus 2021. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner berupa Google Form oleh penyintas COVID-19 di Indonesia. Penyintas COVID-19 dengan usia lebih dari 17 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini, dan subyek dengan data tidak lengkap dikecualikan. Pengolahan data menggunakan SPSS 21 dengan uji regresi ordinal dengan tingkat alpha 5%. Total subyek penelitian berjumlah 101 orang, terdiri dari 16 laki-laki (15,8%) dan 85 perempuan (84,2%). Hasil penelitian menunjukkan komorbiditas (p-value = 0,001) dan durasi pengobatan (p-value = 0,034 dan 0,015) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian Long-term COVID-19, sedangkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, jenis perawatan, dan status vaksinasi tidak berhubungan dengan kejadian Long-term COVID-19. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komorbiditas dan durasi pengobatan secara signifikan berhubungan dengan terjadinya Long-term COVID-19.
Kata Kunci: COVID-19, Long-term COVID-19, long haul COVID-19, faktor prediksi, kesehatan masyarakat



