Pengembangan Penggunaan Wearable Device untuk Monitoring Kondisi Kardiovaskular Pasien Gagal Jantung

Authors

  • Gede Bagus Gita Pranata Bagian Ilmu Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa, Denpasar, Bali, Indonesia
  • Ni Wayan Armerinayanti Bagian Patologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa, Denpasar, Bali, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.22225/wmmj.4.3.2025.233-237

Keywords:

PKM, penyakit gagal jantung, wearable device, poliklinik jantung

Abstract

Bali adalah salah satu daerah dengan penduduk yang padat. Data epidemiologi Riskesdas (2020) menunjukkan prevalensi penyakit gagal jantung di Provinsi Bali khususnya Kabupaten Gianyar masih sangat tinggi yakni 15.446 jiwa. Sebagai mitra, kami mengajak dari tim PKRS RSUD Sanjiwani yang biasa bertugas sebagai ujung tombak promosi edukasi kesehatan. Dibawah pimpinan bapak Agus Lingga tim PKRS memiliki beberapa masalah promkes khususnya di bidang jantung dan pembuluh darah dimana kasusnya semakin bertambah banyak dan beberapa masuk ke instalasi gawat darurat dalam kondisi yang sudah kompleks. Sehingga diperlukan metode pemantauan kondisi kardiovaskular yang real time dapat diketahui oleh pasien atau keluarganya. Tim PKM terdiri dari 5 orang (termasuk mahasiswa) berperan memberikan edukasi, contoh dan cara penggunaan wearable device yang sederhana dapat terhubung ke ponsel penderita maupun keluarga untuk memantau beberapa tanda vital pasien. Metode pengabdian ini berupa focus group discussion dengan tujuan pasien dan keluarganya memahami cara pemakaian wearable device secara spesifik untuk pemantauan tanda vital. Teknologi ini dapat memberikan data yang berharga mengenai denyut jantung, ritme jantung, saturasi oksigen, dan parameter kardiovaskular lainnya, sehingga dapat membantu dalam pengambilan keputusan medis yang lebih cepat dan tepat. Jumlah pasien yang terlibat sekitar 50 orang dengan masing-masing grup berjumlah 10 orang. Kriteria pemilihan adalah pasien atau keluarganya yang memiliki wearable device. Tahap pertama yakni ceramah edukasi berturut selama 3 hari sembari memilih pasien yang memiliki device. Tahap kedua melakukan FGD mengenai pemahaman dan cara pemakain, tahap ketiga yakni pemantauan. Hasil dari pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini menunjukkan bahwa mitra PKM mengalami peningkatan pemahaman dan komitmen terhadap pentingnya pelaksanaan monitoring gejala dan tanda vital pada pasien dengan gagal jantung. Hal ini dibuktikan melalui hasil evaluasi berupa pre-test dan post-test, yang menunjukkan peningkatan nilai sebesar 25 poin. Demi keberlanjutan program berikutnya, akan lebih baik jika bersama-sama disusun alur rujukan temuan deteksi abnormal.

References

1. Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2024. Jakarta; 2024.

2. Deviyana MR, Makmur A. Wearable technology (smartwatch) as an innovative learning support media post-COVID-19 pandemic. J Inov Teknol Pendidik [Internet]. 2024;11(3):328–37. Available from: https://doi.org/10.21831/jitp.v11i3.70884

3. Lippi G, Sanchis-Gomar F. Global epidemiology and future trends of heart failure. AME Med J [Internet]. 2020 Jun;5:15–15. Available from: http://amj.amegroups.com/article/view/5475/html

4. RSUD Sanjiwani. Profile RSUD Sanjiwani. Gianyar; 2023.

5. Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar. Profil Kesehatan Kabupaten Gianyar. 2023.

Downloads

Published

2025-09-30