Comparative Evaluation of Regulation and Law Enforcement of Corruption Crimes in Indonesia and Malaysia
DOI:
https://doi.org/10.22225/scj.8.1.2025.90-97Keywords:
Comparison, Legal System, Corruption Crime, Indonesia, Malaysia, Legislation, Law Enforcement Institutions, Reverse Evidence SystemAbstract
The research compares the legal system of corruption between Indonesia and Malaysia, focused on legislation, law enforcement agencies, evidentiary mechanisms, and the application of sanctions against perpetrators of corruption. Although both countries have similarities in classifying corruption as a serious criminal offense, the application of different legal systems, namely civil law in Indonesia and common law in Malaysia, has a significant impact on the effectiveness of law enforcement. Indonesia has more regulations addressing corruption offenses, in addition to law enforcement bodies like the Corruption Eradication Commission (KPK), which possesses wider authorities. In contrast, Malaysia depends on the Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM), which has restricted powers in prosecution. These differences are reflected in the sanction application, the reverse proof system, and the judicial mechanisms used in each country. This research is expected to provide insight into the effect of legal system differences on corruption eradication in the two countries.
References
Ade Lusy Irawati, T. D. (2024). Perbandingan lembaga anti korupsi di Indonesia dan Malaysia. Proceeding Seminar Nasional Ilmu Sosial & Teknologi (SNISTEK), 142–143.
Akta Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia 2009 (Akta 694).
Anti-Corruption Agency Act 1983.
Chazawi, A. (2016). Hukum pidana korupsi di Indonesia. PT. Raja Grafindo Persada.
Emergency (Essential Powers Ordinance No. 22, 1970).
Firmansyah, T. (2023, December). Indeks persepsi korupsi merosot, Indonesia kalah dari Malaysia. Republika. https://news.republika.co.id/berita/rpcp0s377/indeks-persepsi-korupsi-merosot-indonesia-kalah-dari-malaysia
Ginting, S. B. (2014). Profil lembaga antikorupsi di berbagai negara. Komisi Pemberantasan Korupsi.
Ginting, Y. P. (2023). Perbandingan penegakan hukum mengenai tindak pidana korupsi di negara Indonesia dan negara Malaysia berdasarkan sistem hukumnya. Jurnal Pengabdian West Science, 2(6), 123.
Hartanti, E. (2005). Tindak pidana korupsi. Sinar Grafika.
Indriati, E. (2014). Pola dan akar korupsi. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kamseno, S. (2024). Analisis perbandingan sistem hukum pidana di Indonesia dengan Malaysia terhadap kejahatan tindak pidana korupsi. Amandemen: Jurnal Ilmu Pertahanan, Politik dan Hukum Indonesia, 1(1), 1–23.
Nurlaeli, S. (2023). Analisis perbandingan pengaturan hukum tindak pidana korupsi di Indonesia dan Malaysia. Lex Jurnalica, 20(2), 18.
Pramono, W. (2016). Pemberantasan korupsi dan pidana lainnya: Sebuah perspektif jaksa dan guru besar. Kompas.
Prevention of Corruption Act 1961.
Pusat Edukasi Antikorupsi Komisi Pemberantasan. (2022). Indeks persepsi korupsi. ACLC KPK. https://aclc.kpk.go.id/materi-pembelajaran/politik/infografis/indeks-persepsi-korupsi
Soemidihardjo, D. (2008). Mencegah dan memberantas korupsi: Mencermati dinamikanya di Indonesia. Prestasi Pustaka.
Somadiyono, S. (2020). Perbandingan sistem hukum antara Indonesia dan Malaysia. Jurnal Perbandingan Sistem Hukum antara Indonesia dan Malaysia, 4(2), 147–152.
Suhendra, A. (2023). Perbandingan sistem kewenangan lembaga anti korupsi antara Indonesia dengan Malaysia. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum (JIMHUM), 3(1), 457–468.
Toegarisman, A. (2016). Pemberantasan korupsi dalam paradigma efisiensi. Kompas.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pengesahan Konvensi PBB Anti-Korupsi.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Yuni Priskila Ginting, A. F. (2023). Perbandingan penegakan hukum mengenai tindak pidana korupsi di negara Indonesia dan negara Malaysia berdasarkan sistem hukumnya. Jurnal Pengabdian West Science, 2(6), 374–383.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Ridwan Anthony Taufan, Erry Ariany, Ade Saptomo

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
This journal provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to the public supports a greater global exchange of knowledge.
All articles published Open Access will be immediately and permanently free for everyone to read and download. We are continuously working with our author communities to select the best choice of license options, currently being defined for this journal as follows: Creative Commons Attribution-ShareAlike (CC BY-SA)
The author can hold the copyright without any restriction under Creative Commons Attribution-ShareAlike (CC BY-SA)

