Pengembangan Ekowisata Berbasis Hutan Desa Lebih dengan Konsep Tri Hita Karana untuk Mendukung Keberlanjutan Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi

Authors

  • I Kadek Merta Wijaya Warmadewa University
  • Ni Wayan Meidayanti Mustika Warmadewa University
  • I Wayan Jawat Warmadewa University
  • Dewa Ayu Nyoman Sriastuti Warmadewa University

DOI:

https://doi.org/10.22225/jad.5.1.2025.27-38

Keywords:

ekowisata, Hutan Desa Lebih, konservasi, keberlanjutan, Tri Hita Karana

Abstract

Hutan Desa Lebih merupakan kawasan seluas 3 hektar yang direboisasi dengan pohon mahoni pada tahun 2014 untuk mencegah erosi, mengingat posisinya berada di atas permukiman warga. Saat ini kawasan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan hanya berfungsi sebagai ruang hijau dengan potensi terbatas. Permasalahan utama adalah rendahnya pemanfaatan hutan desa, padahal terdapat potensi sumber mata air suci di Pura Taman Beji serta aktivitas ekonomi masyarakat melalui UMKM kuliner berbasis hasil laut. Pengabdian ini bertujuan mengkaji potensi Hutan Desa Lebih untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata berbasis kearifan lokal dengan konsep Tri Hita Karana. Fokus utamanya adalah bagaimana pengembangan ekowisata dapat mendukung pelestarian lingkungan, meningkatkan ekonomi lokal, serta menjaga keharmonisan sosial budaya. Metode yang digunakan adalah studi deskriptif-kualitatif dengan pendekatan analisis potensi sumber daya alam, sosial-ekonomi, serta kearifan lokal masyarakat. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengelola desa, serta kajian literatur terkait konsep ekowisata dan keberlanjutan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata dapat dilakukan melalui beberapa program: (1) jalur tracking dari desa menuju hutan; (2) lintasan ATV dan area istirahat; (3) fasilitas eco-glamping; (4) ruang komunal untuk kegiatan masyarakat; dan (5) tempat melukat di Pura Taman Beji. Pengembangan ini mendukung keberlanjutan dengan tiga pilar utama: pelestarian lingkungan, pemberdayaan ekonomi melalui UMKM kuliner, dan penguatan nilai spiritual serta sosial budaya. Dengan demikian, Hutan Desa Lebih berpotensi menjadi destinasi ekowisata unggulan yang sejalan dengan visi-misi desa dan tujuan SDGs.

References

[1] D. Lebih, “Visi dan Misi Desa Lebih.

[2] R. Wikantiyoso, D. S. Cahyaningsih, A. G. Sulaksono, S. Widayati, D. Poerwoningsih, and E. Triyosoputri, “Development of Sustainable Community-Based Tourism in Kampong Grangsil, Jambangan Village, Dampit District, Malang Regency,” International Review for Spatial Planning and Sustainable Development, vol. 9, no. 1, pp. 64–77, 2021, doi: 10.14246/IRSPSD.9.1_64.

[3] D. W. Elsevier Butterworth-Heinemann and R. C. Buckley, “Sustainable Tourism: Theory and Practice,” Ann Tour Res, vol. 34, no. 1, 2007.

[4] I. K. M. Wijaya and N. W. Nurwarsih, “Sustainable Tourism Concept in Redesigning Zone-Arrangement on Banyuwedang Hot Springs Architecture,” International Journal of Applied Sciences in Tourism and Events, vol. 3, no. 1, 2019

[5] S. Mohamadi, A. Abbasi, H. A. Ranaei Kordshouli, and K. Askarifar, “Conceptualising sustainable–responsible tourism indicators: an interpretive structural modelling approach,” Environ Dev Sustain, vol. 24, no. 1, pp. 399–425, 2022, doi: 10.1007/s10668-021-01442-9.

[6] G. W. Forje, M. N. Tchamba, and M. Eno-Nku, “Determinants of ecotourism development in and around protected areas: The case of Campo Ma’an National Park in Cameroon,” Sci Afr, vol. 11, p. e00663, 2021, doi: 10.1016/j.sciaf.2020.e00663.

[7] I. K. M. Wijaya, “Local and sustainable potential approaches in the design of a master plan architecture: Case study of Paksebali tourism village development, indonesia,” Geojournal of Tourism and Geosites, vol. 36, no. 2, pp. 571–579, 2021, doi: 10.30892/GTG.362SPL03-685.

[8] N. Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi IV, IV. Yogyakarta: Rake Sarasin, 2002.

[9] Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Edisi ke-2. Bandung: Alfabeta, 2019.

[10] B. Purvis, Y. Mao, and D. Robinson, “Three pillars of sustainability: in search of conceptual origins,” Sustain Sci, vol. 14, no. 3, pp. 681–695, May 2019, doi: 10.1007/s11625-018-0627-5.

[11] P. Shrivastava, Sustainability Planning Guidebook. Pennsylvania: Penn State University, 2019.

[12] D. Throsby, “Culture, economics and sustainability,” Journal of Cultural Economics, vol. 19, no. 3, pp. 199–206, 1995, doi: 10.1007/BF01074049.

[13] D. N. Seniwati and I. G. A. Ngurah, “Tradisi melukat pada kehidupan psiko-spiritual masyarakat Bali,” Vidya Wertta, vol. 3, no. 2, 2020.

[14] D. M. Gepu, “EKSISTENSI RITUAL MELUKAT DI PURA SURANADI PADA MASA PANDEMIK COVID-19,” Widya Sandhi: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya, 2021, doi: 10.53977/ws.v0i0.310.

[15] S. Qiao and S. Lee, “Study on Optimisation of Ecological Design of Traditional Residential Buildings,” Journal of Environmental Protection and Ecology, vol. 23, no. 8, pp. 3324–3330, 2022.

[16] K. Landwehr, Environmental perception: An ecological perspective. Taylor and Francis, 2024.

[17] I. Slunjski, “Ecological perceptual holism – unity of the individual and the environment in perception,” The holistic approach to environment, vol. 12, no. 3, pp. 94–101, May 2022, doi: 10.33765/thate.12.3.1.

[18] K. Yeang, Designing for Survival: Ecological Design. London: Wiley-Academy, John-Wiley & Sons., 2004.

Published

2025-10-30